Senin, 26 Januari 2026

TUGAS MANDIRI 14

 (Ringkasan Materi – 10 Poin Penting)


1. Penulisan akademik tidak berhenti pada draf, tetapi harus melalui tahapan penyuntingan, presentasi, dan publikasi agar gagasan diakui secara ilmiah.


2. Penyuntingan substansi bertujuan memastikan kekuatan argumen, kebaruan ide, kelengkapan data, dan alur logika dari pendahuluan hingga kesimpulan.


3. Penyuntingan bahasa menekankan kejelasan, keefektifan kalimat, konsistensi istilah, serta penggunaan gaya formal dan objektif.


4. Penyuntingan mekanik memastikan ketepatan ejaan, tanda baca, format, serta kesesuaian dengan PUEBI, KBBI, dan gaya selingkung jurnal.


5. Teknik self-editing meliputi memberi jeda waktu (cooling period), membaca nyaring, dan mengecek konsistensi istilah serta format.


6. Presentasi ilmiah harus dirancang dengan prinsip visual yang jelas, ringkas, dan mudah dipahami, misalnya melalui prinsip 10–20–30 dan penggunaan grafik.


7. Struktur presentasi yang baik terdiri dari pembuka (hook), isi inti (metode dan hasil), serta penutup yang menekankan implikasi temuan.


8. Kemampuan menjawab pertanyaan audiens secara tenang dan sistematis menunjukkan penguasaan materi dan profesionalisme akademik.


9. Publikasi jurnal memerlukan pemilihan jurnal yang sesuai scope, bereputasi, dan memiliki sistem peer review yang kredibel.


10. Etika publikasi (anti-plagiarisme, larangan salami slicing, dan double submission) merupakan fondasi integritas dan reputasi ilmiah. 



A. Pertanyaan Pemantik


1. Mengapa penyuntingan mekanik yang buruk bisa menyebabkan penolakan jurnal meskipun isinya bagus?

Karena jurnal memiliki standar teknis ketat; kesalahan ejaan, format, dan sitasi menunjukkan kurangnya profesionalisme dan dapat mengganggu kredibilitas naskah.

2. Apa perbedaan mendasar menyunting tulisan sendiri vs orang lain?

Menyunting tulisan sendiri lebih subjektif dan sulit melihat kesalahan, sedangkan menyunting tulisan orang lain lebih objektif.

3. Sejauh mana AI boleh digunakan dalam penyuntingan akademik?

AI dapat membantu tata bahasa dan struktur, tetapi ide, analisis, dan keputusan akhir tetap harus dari penulis.

4. Mengapa visualisasi data lebih efektif daripada narasi panjang?

Karena grafik dan diagram lebih cepat dipahami dan membantu melihat pola serta hubungan data.

5. Bagaimana mengatasi kegugupan saat tanya jawab?

Dengan persiapan materi, latihan, mendengarkan pertanyaan dengan baik, lalu menjawab secara terstruktur.

6. Apa langkah jika naskah ditolak sebelum peer review?

Mengevaluasi kembali kesesuaian topik dengan jurnal dan memperbaiki naskah sebelum mengirim ke jurnal lain.

7.Mengapa etika publikasi sangat krusial?

Karena menjaga kejujuran ilmiah dan kepercayaan komunitas akademik.

8. Bagaimana menentukan urutan penulis?

Berdasarkan kontribusi terbesar hingga terkecil dalam penelitian dan penulisan.

9. Apa risiko publikasi di jurnal predator?

Reputasi akademik bisa rusak dan karya tidak diakui secara ilmiah.

10. Bagaimana menyederhanakan bahasa teknis tanpa merusak makna?

Dengan memilih istilah yang tepat, kalimat ringkas, dan memberi penjelasan jika perlu.


B. Pertanyaan Reflektif 


1. Bagian penyuntingan mana yang paling sulit bagi saya?

Menjaga alur logika dan konsistensi istilah.

2. Apakah saya lebih fokus pada tata bahasa atau argumen?

Perlu menyeimbangkan keduanya agar tulisan kuat dan jelas.

3. Apakah presentasi saya menarik untuk ditonton?

Menjadi evaluasi untuk memperbaiki gaya penyampaian.

4. Seberapa siap menerima kritik reviewer?

Harus siap secara mental dan ilmiah untuk perbaikan.

5. Pernah mengabaikan sitasi?

Ini harus dihindari demi kejujuran akademik.

6. Apa motivasi mempublikasikan tulisan?

Untuk berkontribusi pada ilmu pengetahuan.

7. Bagaimana perasaan jika karya diplagiasi?

Kecewa dan dirugikan secara akademik.

8. Apakah referensi sudah mutakhir?

Idealnya menggunakan sumber 10 tahun terakhir.

9. Bagaimana meningkatkan kemampuan presentasi?

Dengan latihan rutin dan evaluasi diri.

10. Langkah perbaikan draf selanjutnya?

Melakukan penyuntingan substansi, bahasa, dan mekanik secara menyeluruh.

TUGAS MANDIRI 13

 Ringkasan 10 Poin Penting Artikel Ilmiah Populer


1. Artikel ilmiah populer berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan akademik dan publik luas.


2. Fokus utama bukan kompleksitas metodologi, tetapi relevansi dampak penelitian bagi kehidupan sehari-hari.


3. Bahasa harus komunikatif, inklusif, dan bebas jargon teknis yang tidak perlu.


4. Substansi ilmiah tetap dijaga meskipun gaya penyajian disederhanakan.


5. Proses penulisan diawali dengan mengekstraksi temuan inti penelitian.


6. Struktur narasi lebih penting daripada struktur baku akademik.


7. Judul berfungsi sebagai pintu masuk pemahaman, bukan alat manipulasi klik.


8. Literasi media diperlukan agar penulis memahami cara kerja publik dan platform digital.


9. Diseminasi penelitian adalah tanggung jawab sosial peneliti, bukan aktivitas tambahan.


10. Artikel populer memperluas dampak riset melampaui ruang kelas dan jurnal.


  

Pertanyaan-pertanyaan ini dimaksudkan untuk memicu diskusi kelompok. 

1. Berita kesehatan di portal media bersifat ringkas, aplikatif, dan berorientasi pada dampak langsung, sedangkan jurnal kedokteran bersifat teknis, metodologis, dan ditujukan untuk komunitas ilmiah terbatas.

2. Banyak hasil penelitian berhenti di perpustakaan karena tidak ada upaya translasi bahasa dan konteks ke ranah publik, serta karena sistem akademik lebih menghargai publikasi ilmiah formal dibanding diseminasi sosial.

3. Kesulitan menjelaskan pekerjaan akademik kepada non-akademisi menunjukkan kegagalan komunikasi, bukan rendahnya kecerdasan audiens.

4. Judul boleh menarik selama tetap merepresentasikan isi dan tidak menyesatkan. Batasnya adalah kejujuran substansi.

5. Tidak semua hasil penelitian layak menjadi artikel populer. Yang layak adalah penelitian yang memiliki relevansi sosial, implikasi praktis, atau nilai reflektif bagi masyarakat.


Refleksi 


1. Menulis untuk berbagi pemahaman berarti menempatkan pembaca sebagai subjek utama, bukan sebagai penonton kecerdasan penulis.

2. Kesediaan pembaca meluangkan waktu lima menit menjadi indikator kejelasan, relevansi, dan kejujuran tulisan.

3. Bagian penelitian yang paling menyentuh publik adalah temuan yang memengaruhi keputusan, kebiasaan, atau cara pandang sehari-hari.

4. Memberikan kredit adalah bentuk etika dan kesadaran bahwa pengetahuan lahir dari kerja kolektif.

5. Dikutip untuk tujuan bermanfaat menandakan bahwa tulisan telah melampaui fungsi akademik dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.

TUGAS MANDIRI 12

 Ringkasan 10 Poin Penting 


1. Laporan kegiatan dan laporan penelitian memiliki fungsi, tujuan, dan standar keilmuan yang berbeda.


2. Laporan kegiatan berorientasi pada pertanggungjawaban pelaksanaan, sedangkan laporan penelitian berorientasi pada penemuan ilmiah.


3. Struktur laporan formal menuntut sistematika logis: pendahuluan, isi/pembahasan, dan penutup.


4. Analisis data menjadi pembeda utama antara laporan deskriptif dan laporan ilmiah.


5. Kejelasan metodologi menentukan kredibilitas laporan penelitian.


6. Bahasa baku dan efektif adalah syarat legitimasi akademik.


7. Data harus disajikan secara logis melalui tabel, grafik, atau narasi analitis.


8. Etika penulisan menjaga kejujuran intelektual dan kepercayaan pembaca.


9. Daftar pustaka berfungsi sebagai bukti keterlibatan ilmiah, bukan formalitas.


10. Laporan yang baik memungkinkan evaluasi, replikasi, dan pengambilan keputusan.



Jawaban Diskusi Kelompok


1. Perbandingan rencana anggaran dan realisasi anggaran menunjukkan tingkat akuntabilitas, efisiensi, dan integritas pelaksanaan kegiatan. Tanpa perbandingan ini, laporan kehilangan fungsi evaluatif dan berpotensi menutupi pemborosan atau penyimpangan.

2. Validitas penelitian runtuh ketika metodologi tidak dijelaskan secara rinci karena proses penelitian tidak dapat diuji, dievaluasi, atau direplikasi. Hasil penelitian berubah menjadi klaim subjektif tanpa dasar ilmiah.

3. Bagian hasil menyajikan data apa adanya, sedangkan pembahasan menafsirkan makna data tersebut dengan merujuk pada teori dan penelitian terdahulu. Mencampur keduanya mengaburkan batas antara fakta dan interpretasi.

4. Perangkat lunak anti-plagiarisme meningkatkan disiplin akademik, memaksa penulis untuk memahami, bukan menyalin. Teknologi ini menggeser fokus dari sekadar menulis ke kemampuan berpikir dan mengolah gagasan.

5. Dalam pengambilan keputusan, bagian evaluasi hasil dan rekomendasi paling menentukan karena menunjukkan dampak nyata, kendala, dan kelayakan program untuk dilanjutkan atau dihentikan.



Refleksi Akhir Proyek 


1. Data numerik yang bersifat perbandingan dan rinci lebih efektif disajikan dalam tabel, sementara pola, tren, dan perubahan lebih komunikatif melalui grafik.

2. Tantangan terbesar dalam parafrasa adalah mempertahankan makna asli tanpa meniru struktur kalimat. Kepastian non-plagiarisme dicapai dengan memahami sumber terlebih dahulu, lalu menulis ulang dengan logika sendiri.

3. Pencantuman sumber tetap wajib meskipun ide bersifat umum karena etika akademik menuntut kejujuran asal-usul gagasan dan penghormatan terhadap tradisi keilmuan.

4. Objektivitas dalam laporan kegiatan yang gagal dijaga dengan memisahkan fakta, analisis, dan opini, serta menyajikan kritik berbasis data dan rekomendasi solutif.

5. Penyederhanaan temuan kompleks dilakukan dengan memilih konsep inti, menghindari jargon berlebihan, dan menggunakan analogi terbatas tanpa mengorbankan ketepatan ilmiah.

TUGAS MANDIRI 11

 10 Poin Penting Metodologi & Proposal Penelitian


1. Metodologi penelitian adalah kerangka ilmiah yang mengatur logika, arah, dan keabsahan seluruh proses riset.


2. Metodologi berbeda dari metode; metodologi menjawab mengapa dan bagaimana, metode menjawab dengan alat apa.


3. Validitas, reliabilitas, dan objektivitas hanya dapat dicapai melalui metodologi yang konsisten dan terjustifikasi.


4. Pemilihan pendekatan (kuantitatif, kualitatif, campuran) ditentukan oleh jenis pertanyaan riset, bukan preferensi peneliti.


5. Populasi, sampel, dan teknik sampling menentukan kekuatan generalisasi hasil penelitian.


6. Instrumen penelitian wajib diuji sebelum digunakan untuk mencegah kesimpulan keliru.


7. Etika penelitian bukan tambahan administratif, tetapi syarat legitimasi ilmiah.


8. Proposal berfungsi sebagai peta jalan yang mengikat peneliti secara akademik dan moral.


9. Inkonsistensi antarbagian proposal adalah kegagalan logika, bukan sekadar kesalahan teknis.


10. Revisi proposal adalah proses penguatan argumen dan kedewasaan akademik peneliti.




1. Relevansi Sosial

Isu yang paling mendesak umumnya berada pada wilayah yang dianggap “biasa”: pengelolaan sampah skala mikro, kesehatan mental mahasiswa, ketimpangan akses pendidikan, atau degradasi lingkungan lokal. Minimnya perhatian akademik terjadi karena isu tersebut tidak spektakuler, padahal dampaknya langsung dan berkelanjutan.


2. Jembatan Teori dan Realitas

Teori berfungsi sebagai alat baca, bukan dogma. Konsep seperti pembangunan berkelanjutan, perilaku sosial, atau teori sistem dapat digunakan sebagai lensa analitis untuk membaca fenomena lapangan tanpa memaksakan realitas agar sesuai teori.


3. Keterbatasan Data Awal

Proposal kredibel dapat disusun dengan data awal yang terbatas selama data tersebut relevan, terverifikasi, dan menunjukkan pola masalah. Data paling krusial adalah bukti eksistensi masalah, aktor yang terlibat, dan indikasi dampak.


4. Kontribusi Unik (Novelty)

Nilai tambah tidak selalu berarti topik baru, tetapi bisa berupa konteks baru, pendekatan metodologis berbeda, atau sintesis kritis yang belum dilakukan. Novelty terletak pada cara berpikir, bukan hanya objek.


5. Batasan Etika

Dilema utama meliputi kerahasiaan informan, bias peneliti, dan relasi kuasa di lapangan. Mitigasi dilakukan melalui informed consent, refleksi posisi peneliti, dan transparansi prosedur.




1. Tantangan dan Adaptasi

Tantangan terbesar biasanya adalah ketidakjelasan fokus dan keterbatasan data. Adaptasi dilakukan dengan mempersempit lingkup riset dan menyesuaikan metode agar tetap menjawab masalah inti.


2. Peran Teori vs. Realita

Data lapangan sering kali tidak sepenuhnya mendukung asumsi teoritis awal. Ketidaksesuaian ini bukan kegagalan, tetapi temuan penting yang menuntut revisi kerangka pikir.


3. Proses Kolaborasi

Kontribusi paling signifikan muncul dari kemampuan menjaga konsistensi logika dan koordinasi kerja. Proyek akademik kompleks menuntut pembagian peran yang jelas dan disiplin kolektif.


4. Keterampilan Akademik

Keterampilan yang paling berkembang adalah berpikir kritis dan menulis ilmiah. Keduanya membentuk kemampuan menyusun argumen yang dapat dipertanggungjawabkan di masa depan.


5. Potensi Dampak

Dampak nyata yang diharapkan adalah perubahan cara pandang: baik pada kebijakan lokal, praktik komunitas, maupun diskursus akademik. Penelitian bernilai ketika mampu memengaruhi keputusan, bukan hanya menambah arsip.

TUGAS MANDIRI 10

 Ringkasan 10 poin penting dari pembahasan:


1. Proposal penelitian adalah fondasi utama dalam proses ilmiah, bukan sekadar formalitas administratif.

2. Proposal berfungsi sebagai cetak biru penelitian, panduan sistematis dari awal hingga akhir.

3. Proposal menjadi instrumen persetujuan dan pendanaan, baik di perguruan tinggi maupun lembaga riset.

4. Proposal mencerminkan kesiapan akademik, pemahaman teori, dan kejelian metodologi peneliti.

5. Judul penelitian harus ringkas, jelas, dan mencerminkan fokus penelitian.

6. Latar belakang masalah menjelaskan urgensi penelitian dengan menyoroti kesenjangan antara teori dan praktik.

7. Rumusan masalah harus spesifik, fokus, dan dapat dijawab dengan metode yang dirancang.

8. Kerangka teori dan tinjauan pustaka menunjukkan landasan intelektual serta identifikasi research gap.

9. Metodologi mencakup pendekatan, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, serta analisis data.

10. Proposal harus disusun dengan sistematika, etika, konsistensi gaya penulisan, dan revisi akhir yang teliti.



1. Struktur (Analogi Rumah Proposal)


Pondasi: Latar belakang masalah. Menopang seluruh bangunan argumen dengan konteks, urgensi, dan rasionalitas ilmiah.


Tiang: Rumusan masalah. Menyalurkan beban dari atas ke pondasi dalam bentuk pertanyaan riset yang terfokus.


Atap: Tujuan dan manfaat penelitian. Memberi arah akhir dan justifikasi keluaran.

Koherensi latar belakang dengan rumusan masalah bersifat struktural. Jika latar belakang melebar tanpa mengerucut ke rumusan masalah, tiang berdiri di tanah rapuh. Rumusan masalah wajib menjadi kristalisasi langsung dari problem yang dibangun di latar belakang, bukan topik baru.


2. Metodologi (Pemilihan Pendekatan)

Keputusan kualitatif vs kuantitatif ditentukan oleh hakikat pertanyaan riset dan jenis data yang dibutuhkan.


Kualitatif: ketika tujuan memahami makna, proses, pengalaman, atau konstruksi sosial; data berupa narasi; fleksibilitas desain tinggi.


Kuantitatif: ketika tujuan menguji hubungan, pengaruh, atau generalisasi; data numerik; variabel terdefinisi jelas.

Elemen kunci Bab Metodologi: kesesuaian pendekatan dengan rumusan masalah, kejelasan sumber data, teknik pengumpulan, teknik analisis, dan justifikasi ilmiah atas pilihan tersebut. Metodologi bukan preferensi peneliti, melainkan konsekuensi logis dari masalah.


3. Fungsi (Risiko Ketidakkonsistenan Proposal–Pelaksanaan)

Konsekuensi terburuk: delegitimasi akademik. Data dinilai tidak sah, analisis dianggap menyimpang, dan hasil riset berpotensi ditolak pada tahap evaluasi akhir. Ketidakkonsistenan juga membuka tuduhan manipulasi metodologis, menurunkan kredibilitas peneliti, dan mempersulit publikasi. Proposal yang terlalu detail tetapi tidak diikuti justru menjadi alat pembuktian kegagalan metodologis.


4. Integritas (Research Gap vs Duplikasi)


Research gap kuat dan orisinal: celah konseptual, metodologis, atau kontekstual yang teridentifikasi jelas dari peta riset terdahulu, lalu dijawab dengan sudut pandang baru, konteks baru, atau pendekatan berbeda.


Duplikasi: pengulangan variabel, konteks, metode, dan tujuan tanpa kontribusi konseptual baru.

Perbedaannya terletak pada nilai tambah ilmiah. Research gap memperluas pengetahuan; duplikasi hanya mereplikasi tanpa urgensi.


5. Revisi & Seminar (Bobot Strategis)

Revisi dan seminar menentukan apakah proposal dipercaya dan dipahami, bukan sekadar benar secara isi. Tahap ini menguji konsistensi logika, ketajaman argumentasi, dan kematangan peneliti.

Faktor non-teknis penyebab penolakan: ketidakjelasan fokus saat presentasi, ketidakmampuan mempertahankan pilihan metodologi, inkonsistensi jawaban, sikap defensif, dan ketidaksiapan mental akademik. Proposal gagal bukan karena isinya lemah, tetapi karena penelitinya tidak meyakinkan.




Pengalaman Menulis: "Bagian manakah dari struktur proposal (Latar Belakang, Tinjauan Pustaka, atau Metodologi) yang menurut Anda paling menantang untuk disusun secara logis, dan strategi pribadi apa yang Anda gunakan untuk mengatasi tantangan tersebut?"


*  Bagian paling menantang adalah Tinjauan Pustaka karena menuntut kemampuan memetakan banyak sumber menjadi satu alur argumentasi logis, bukan ringkasan terpisah. Tantangan utamanya konsistensi fokus dan penentuan posisi riset. Strategi efektif: memulai dari kerangka konseptual, mengelompokkan literatur berdasarkan tema atau variabel, lalu secara sadar menandai di mana penelitian sendiri akan masuk. Menulis dilakukan setelah peta ide jelas, bukan sambil membaca.


Komitmen: "Proposal adalah komitmen tertulis. Jika Anda sedang menyusun proposal, apakah Anda benar-benar yakin bahwa waktu dan sumber daya yang Anda rencanakan dalam Jadwal Penelitian realistis? Jika tidak, bagaimana Anda akan menyeimbangkan idealisme riset dengan realitas sumber daya Anda?"


* Jadwal penelitian sering bersifat normatif, bukan realistis. Ketidakyakinan muncul ketika beban akademik, akses data, dan keterbatasan waktu diabaikan. Penyeimbangan dilakukan dengan memangkas lingkup riset, memprioritaskan variabel inti, dan menyusun jadwal berbasis kapasitas aktual, bukan target ideal. Proposal yang realistis lebih bernilai daripada ambisius tetapi tidak terlaksana.


Etika: "Menurut Anda, seberapa besar tanggung jawab etis seorang peneliti untuk memastikan bahwa semua sumber yang dicantumkan dalam Daftar Pustaka benar-benar telah ia baca dan pahami, bukan sekadar pelengkap formalitas?"


* Tanggung jawab etis bersifat penuh. Mencantumkan sumber tanpa membaca dan memahami isinya merupakan pelanggaran integritas akademik. Daftar pustaka bukan hiasan administratif, melainkan bukti keterlibatan intelektual. Ketidakjujuran di tahap ini merusak fondasi argumen dan menjadikan riset rapuh secara moral maupun ilmiah.


Keterbatasan: "Semua proposal memiliki keterbatasan. Setelah mempelajari unsur-unsur proposal, apa yang akan Anda tulis di bagian Keterbatasan Penelitian Anda untuk menunjukkan bahwa Anda telah berpikir kritis dan realistis tentang ruang lingkup riset Anda?"


* Keterbatasan yang ditulis mencakup batasan konteks, subjek, waktu, metode, dan generalisasi hasil. Penulisan keterbatasan menunjukkan kesadaran bahwa penelitian tidak bersifat absolut. Keterbatasan bukan kelemahan tersembunyi, melainkan pengakuan rasional atas ruang lingkup yang dipilih secara sadar. 



Transparansi: "Sejauh mana Anda merasa proposal yang Anda susun sudah cukup transparan dalam menjelaskan setiap tahapan metodologi, sehingga jika ada peneliti lain yang ingin mereplikasi studi Anda, mereka dapat melakukannya dengan mudah?"


* Proposal yang transparan menjelaskan alasan pemilihan pendekatan, prosedur pengumpulan data, teknik analisis, serta kriteria validitas secara rinci dan konsisten. Transparansi diukur dari kemungkinan replikasi. Jika peneliti lain dapat mengikuti langkah yang sama tanpa asumsi tambahan, maka metodologi telah dijelaskan dengan memadai.

TUGAS MANDIRI 9

 A.     Buat Ringkasan 10 poin penting.


1. Penelitian ilmiah adalah fondasi utama pengembangan ilmu pengetahuan, bukan sekadar syarat kelulusan.

2. Tujuan penelitian: mengembangkan ilmu, memecahkan masalah, dan menyumbang solusi nyata bagi masyarakat.

3. Penelitian harus memenuhi kriteria: objektif, sistematis, empiris, dan replikatif.

4. Integritas akademik adalah garis merah; kejujuran dan etika wajib dijaga dalam setiap proses penelitian.

5. Plagiarisme merusak integritas keilmuan; kutipan dan daftar pustaka yang benar adalah cara menghindarinya.

6. Penelitian kualitatif menggali makna fenomena sosial, sedangkan kuantitatif menguji hipotesis dengan data numerik.

7. Konsep variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) penting dalam merumuskan hipotesis kuantitatif.

8. Mixed methods (gabungan kualitatif dan kuantitatif) semakin diakui untuk hasil penelitian yang komprehensif.

9. Menentukan topik penelitian harus berangkat dari literature review untuk menemukan research gap.

10. Penelitian yang relevan, etis, dan berbasis gap akan berkontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.


B.      Pertanyaan Pemantik (Aplikasi Konsep)


1. Mengapa pemilihan topik penelitian menjadi fondasi penting dalam keseluruhan proses penelitian ilmiah?

*  Karena topik menentukan arah penelitian, teori yang digunakan, metode yang dipilih, serta relevansi hasil. Topik yang tepat menjamin penelitian bermakna dan berkontribusi nyata.


2. Apa saja unsur dasar penelitian yang harus dipahami sebelum menentukan arah topik penelitian?

* Hakikat penelitian (objektif, sistematis, empiris, replikatif).

* Tujuan penelitian (pengembangan ilmu, solusi masalah, kontribusi nyata).

* Etika akademik (anti-plagiarisme, kejujuran, informed consent).

* Pemahaman metode (kualitatif, kuantitatif, atau campuran).


3. Bagaimana strategi yang efektif dalam membatasi topik agar tidak terlalu luas namun tetap bermakna?

*  Fokus pada variabel spesifik.

* Tentukan lokasi, waktu, atau populasi penelitian.

* Gunakan literature review untuk menemukan celah yang realistis.

* Hindari topik terlalu umum, ubah menjadi fokus yang terukur.


4. Apa yang membuat suatu topik layak untuk diteliti dan bagaimana relevansi topik terhadap disiplin ilmu dapat ditentukan?

* Relevansi dengan disiplin ilmu.

* Urgensi sosial atau akademik.

* Ketersediaan data dan sumber.

* Potensi kontribusi terhadap teori atau praktik.


5. Sejauh mana minat pribadi, ketersediaan data, dan urgensi sosial memengaruhi keputusan akhir dalam memilih topik?

* Minat pribadi menjaga motivasi, ketersediaan data memastikan kelayakan, dan urgensi sosial menjamin relevansi. Ketiganya harus dipertimbangkan bersama agar penelitian tidak hanya mungkin dilakukan, tetapi juga bermakna.Minat pribadi menjaga motivasi, ketersediaan data memastikan kelayakan, dan urgensi sosial menjamin relevansi. Ketiganya harus dipertimbangkan bersama agar penelitian tidak hanya mungkin dilakukan, tetapi juga bermakna.


C.      Pertanyaan Reflektif (Eksplorasi Pribadi)


1. Pernahkah Anda merasa bingung dalam memilih topik penelitian? Apa penyebab utamanya, dan bagaimana Anda mengatasinya?

* Ya, kebingungan muncul karena terlalu banyak pilihan dan kurangnya pemahaman tentang research gap. Saya mengatasinya dengan berdiskusi dengan dosen pembimbing dan membaca lebih banyak literatur untuk menemukan celah yang relevan.


2. Topik seperti apa yang paling sesuai dengan minat akademik Anda? Sudahkah Anda mempertimbangkan topik itu untuk penelitian Anda ke depan?

* Saya tertarik pada bidang komunikasi digital, khususnya pengaruh media sosial terhadap perilaku belajar mahasiswa. Topik ini sudah saya pertimbangkan untuk penelitian ke depan karena relevan dengan perkembangan teknologi.


3. Menurut Anda, lebih penting mana antara memilih topik yang sedang tren atau topik yang sesuai dengan nilai dan visi pribadi Anda? Mengapa?

* Menurut saya, topik sesuai visi pribadi lebih penting. Topik tren bisa cepat usang, sementara topik yang sesuai nilai pribadi memberi motivasi jangka panjang dan kontribusi yang lebih konsisten.


4. Seberapa besar pengaruh dosen pembimbing, teman sebaya, dan sumber literatur dalam proses pemilihan topik Anda selama ini?

* Sangat besar. Dosen memberi arahan metodologis, teman sebaya memberi inspirasi ide, dan literatur membuka wawasan tentang celah penelitian. Kombinasi ketiganya membantu saya memperkuat keputusan topik.


5. Setelah memahami konsep dan strategi pemilihan topik, apa perubahan pendekatan yang akan Anda lakukan dalam penelitian selanjutnya?

* Saya akan lebih sistematis dalam melakukan literature review, mencatat ide sejak awal, dan langsung membatasi topik agar fokus. Selain itu, saya akan lebih disiplin menjaga etika akademik, terutama dalam kutipan dan daftar pustaka.

Kamis, 30 Oktober 2025

TUGAS MANDIRI 7

 A_19 PUTRI RAHMA NUR ZAHRA


A. BUAT RINGKASAN 10 POINT PENTING


1. Informasi ilmiah itu hasil riset yang bisa dipertanggungjawabkan, bersifat objektif, dan biasanya dipublikasikan dalam bentuk jurnal, buku, atau laporan penelitian.

2. Ciri utama informasi ilmiah adalah berbasis data dan bukti, bukan opini pribadi. Jadi semua argumen harus punya dasar ilmiah yang jelas.

3. Sumber informasi ilmiah ada banyak jenisnya, seperti artikel jurnal, skripsi, tesis, prosiding, buku referensi, dan laporan penelitian yang valid.

4. Menelusuri informasi ilmiah harus pakai strategi, misalnya tentuin kata kunci dan sinonim yang tepat biar hasil pencarian lebih relevan.

5. Gunakan platform pencarian ilmiah kayak Google Scholar, SINTA, DOAJ, dan GARUDA buat dapetin sumber yang kredibel, bukan asal dari blog atau media bebas.

6. Manfaatkan operator Boolean (AND, OR, NOT) buat nyaring hasil pencarian biar lebih spesifik dan sesuai kebutuhan penelitian kamu.

7. Evaluasi sumber informasi dengan lima aspek utama: akurasi, otoritas, objektivitas, cakupan, dan kekinian, supaya gak kejebak hoaks akademik atau jurnal predator.

8. Etika akademik itu penting banget, termasuk jujur dalam mengutip, menghormati hak cipta, dan selalu transparan dalam penggunaan data.

9. Penulisan kutipan dan daftar pustaka harus sesuai gaya tertentu (misalnya APA, MLA, atau Chicago) dan ditulis secara konsisten di seluruh karya ilmiah.

10. Aplikasi manajemen referensi seperti Zotero dan Mendeley bisa bantu nyimpen, ngatur, dan otomatis bikin daftar pustaka biar proses nulis lebih efisien dan rapi.



B. PERTANYAAN PEMANTIK


1. Apa perbedaan antara informasi ilmiah dan informasi populer?

Informasi ilmiah bersumber dari riset yang bisa dipertanggungjawabkan, biasanya ditulis oleh ahli dan diterbitkan di jurnal akademik. Sedangkan informasi populer ditulis untuk umum, gaya bahasanya ringan, dan sering muncul di media massa atau blog tanpa proses verifikasi mendalam.


2. Bagaimana cara menelusuri informasi ilmiah yang valid di internet?

Pertama, tentuin kata kunci yang spesifik, lalu cari lewat situs akademik kayak Google Scholar, SINTA, atau DOAJ. Gunakan operator Boolean (AND, OR, NOT) biar hasilnya lebih akurat, terus pastiin sumbernya dari jurnal atau penerbit terpercaya, bukan dari situs abal-abal.


3. Sebutkan kriteria untuk menilai kredibilitas sebuah jurnal ilmiah.

Kredibilitas jurnal bisa dinilai dari:

Penerbitnya resmi (misalnya universitas atau lembaga penelitian),

Ada proses peer review,

Penulisnya ahli di bidangnya,

Terindeks di database seperti Scopus atau SINTA,

Artikel di dalamnya menyertakan referensi dan data yang jelas.


4. Mengapa penghindaran plagiarisme penting dalam penulisan ilmiah?

Karena plagiarisme termasuk pelanggaran etika akademik. Kalau kita nyontek karya orang tanpa sumber, itu bisa nurunin reputasi, bikin karya gak orisinal, bahkan bisa kena sanksi akademik. Intinya, kejujuran ilmiah itu harga mati.


5. Bagaimana format penulisan daftar pustaka untuk sumber daring?

Contohnya dalam gaya APA:


Nama Penulis. (Tahun). Judul artikel. Nama Situs. URL

Misalnya:

Rahman, A. (2024). Penerapan Arsitektur Hijau di Indonesia. Kompas.com. https://www.kompas.com/arsitekturhijau




C. PERTANYAAN REFLEKTIF


1. Ceritakan pengalaman Anda menggunakan sumber tidak valid dan dampaknya.

Pernah waktu awal ngerjain makalah, aku asal ambil info dari blog tanpa ngecek penulisnya. Akhirnya data yang aku tulis gak akurat dan dosen bilang argumennya lemah. Dari situ aku sadar pentingnya pakai sumber ilmiah yang bisa dipercaya.


2. Bagaimana Anda membedakan jurnal ilmiah terpercaya dan jurnal predator?

Aku lihat dulu apakah jurnalnya punya peer review, editor jelas, dan terindeks di Scopus, SINTA, atau DOAJ. Kalau jurnal predator biasanya minta bayar cepat, gak ada review, dan websitenya asal-asalan.


3. Apa kesulitan terbesar dalam menulis daftar pustaka? Bagaimana mengatasinya?

Kesulitannya di format yang harus konsisten, kadang beda gaya (APA, MLA, Chicago) bikin bingung. Aku ngatasinnya pakai aplikasi Mendeley biar formatnya otomatis dan gak perlu nulis satu-satu.


4. Apakah Anda pernah menggunakan Mendeley/Zotero? Jelaskan pengalamannya.

Pernah pakai Mendeley. Awalnya agak bingung, tapi setelah ngerti fiturnya, jadi enak banget buat nyimpen jurnal, nyisipin kutipan ke Word, dan otomatis bikin daftar pustaka sesuai gaya yang dipilih. Hemat waktu banget.


5. Perbaikan apa yang akan Anda lakukan dalam menulis kutipan ke depan?

Aku bakal lebih hati-hati nulis kutipan, pastiin semua sumber ditulis di daftar pustaka, dan mulai biasain pakai parafrase daripada kutipan langsung. Juga rutin pakai Mendeley biar gak ada sumber yang kelewat.




TUGAS MANDIRI 14

 (Ringkasan Materi – 10 Poin Penting) 1. Penulisan akademik tidak berhenti pada draf, tetapi harus melalui tahapan penyuntingan, presentasi,...